Kamis, 14 Februari 2013

Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW


Sejarah Perayaan Maulid
  • 1. Bulan ini, tepatnya pada tanggal 4 Juni 2001, adalah tepat 12 Rabi-Al-Awwal1442H pada penanggalan Islam (Hijriah). Pada hari tersebut, Nabi junjungankita Muhammad dilahirkan. Semoga shalawat serta salam selalu tercurahkankepada beliau beserta keluarga dan sahabatnya.Hari tersebut, di Indonesia dikenal dengan Maulid Nabi (Milad an Nabi). MaulidNabi memang bukan hari besar Islam kalau dilihat dari pandangan al Quran danHadis. Juga, Nabi sendiri pun tidak menganjurkan harinya diperingati. Tetapi,merujuk pada sejarah, di era kekhalifan juga pernah diadakan peringatankelahiran Nabi. Untuk itu, sebagai penghormatan, pada hari itulah, kitasetidaknya mengingat hari lahirnya Nabi yang kita cintai. Seseorang yang diberihidayah Allah sebagai penerang dengan membawa ajaran hinggan akhir jaman.Di kehidupan masa kini, kita telah mafhum dan mengenal berbagai macamperingatan hari-hari, baik itu hari kenegaraan (nasional) seperti HariKemerdekaan, mungkin juga hari Ulang Tahun perusahaan tempat kita bekerja,dan juga sangat banyak yang memperingati hari Ulang Tahun diri sendiri.Peringatan itu tidak harus mewah, besar, dengan mengundang puluhan hinggaratusan orang. Banyak pula yang sekedar merenung, mengulang seluruhkegiatan, baik kegiatan bangsa, kegiatan di perusahaan, atau juga seluruhpekerjaan yang telah dilakukan selama setahun. Dan seluruh renungan itu tidakharam, karena dengan merenung dan mengevaluasi segala pekerjaan kita, kitamenjadi manusia yang selalu ingat. Dan apa karunia bagi orang yang ingat? Yaitudiberikan penerang dan hidayah baginya.Oleh karena itu, sebagai suatu momen penting 12 Rabiul Awwal H, seperti dikampung-kampung, bahkan dijadikan sebagai hari penting---dan Indonesiasendiri pun menjadikan tanggal tersebut sebagai hari libur nasional. Harapankita, di hari libur itu, juga hari-hari selanjut, bulan selanjut, dan di seluruh hidupkita selanjutnya, kita seterusnya dapat meneladani dan menyikapi hidup kitaberdasarkan apa yang diajarkan dan dicontohkan Sang Nabi Kekasih Allah Swt."(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya)mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yangmenyuruh mereka mengerjakan yang maruf dan melarang mereka darimengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baikdan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang darimereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Makaorang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya danmengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Quran),mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Araa 7:157)
  • 2. Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW bermula pada masa pemerintahan Bani Taimiyah,kemudian dilanjuti pada masa pemerintahan Khalifah Bani Abbas oleh penguasa AlHaramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah) Sultan Salahuddin Al Ayyubi (SoultanSaladin).Salahuddin memerintah para tahun 1174-1193 M atau 570-590 H pada Dinasti BaniAyyub, setingkat Gubernur dengan pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo),Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah danSemenanjung Arabia.Perintah merayakan Maulid ini disampaikan pertama kali pada musim Haji 579 H (1183Masehi). Sebagai penguasa dua tanah suci kala itu, atas persetujuan Khalifah BaniAbbas di Baghdad, Sultan mengimbau agar seluruh jamaah haji seluruh dunia jikakembali ke kampung halaman masing-masing segera mensosialisasikan kepadamasyarakat Islam dimana saja berada. Maksud Sultan Salahuddin merayakan tradisi iniselain bentuk cintanya pada Rasul juga sebagai cara membangkitkan semangat juangumat Islam yang kala itu kehilangan semangat juang dan persaudaraan ukhuwah ketikaterjadi perang salib.Salahuddin ditentang oleh para ulama. Sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itutidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaituIdul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaanMaulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, sehingga tidakdapat dikategorikan bid`ah yang terlarang.Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid Nabiyang pertama kali tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan sayembara penulisanriwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin.Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenangyang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far Al-Barzanji. Karyanya yang dikenalsebagai Kitab Barzanji sampai sekarang sering dibaca masyarakat di kampung-kampung pada peringatan Maulid Nabi.Penyair Ahmad Syauqi menggambarkan kelahiran Nabi Mulia itu dalam syairnya yangindah:“Telah dilahirkan seorang Nabi, alam pun bercahaya, sang waktu pun tersenyum danmemuji”.Tradisi Maulid Nabi di Tanah JawaBagi sebagian orang Islam tradisi merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakansebagai salah satu bentuk pengejewantahan rasa cinta umat kepada Rasul Nya.Di tanah Jawa sendiri tradisi ini telah ada sejak zaman walisongo, pada masa itu tradisiMaulid Nabi dijadikan sebagai sarana dakwah penyebaran agama Islam denganmenghadirkan berbagai macam kegiatan yang menarik masyarakat. Pada saat ini tradisiMaulid/Mauludan di Jawa disamping sebagai bentuk perwujudan cinta umat kepadaRasul juga sebagai penghormatan terhadap jasa-jasa Walisongo.
  • 3. Sebagian masyarakat Jawa merayakan maulid dengan membaca Barzanji, Diba’i ataual-Burdah atau dalam istilah orang Jakarta dikenal dengan rawi. Barzanji dan Diba’iadalah karya tulis seni sastra yang isinya bertutur tentang kehidupan Muhammad,mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkatmenjadi rasul. Karya itu juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki NabiMuhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia. SedangkanAl-Burdah adalah kumpulan syair-syair pujian kepada Rasulullah SAW yang dikarangoleh Al-Bushiri.Berbagai macam acara dibuat untuk meramaikan acara ini, lambat laun menjadi bagiandari adat dan tradisi turun temurun kebudayaan setempat.Di Cirebon, Yogyakarta, dan Surakarta, perayaan maulid dikenal dengan istilah sekaten.Istilah ini berasal dari stilasi lidah orang Jawa atas kata syahadatain, yaitu dua kalimatsyahadat. Perayaan umumnya bersifat ritual penghormatan (bukan penyembahan)terhadap jasa para wali penyebar Islam, misalnya upacara Panjang Jimat yaitu upacarapencucian senjata pusaka peninggalan para wali.Di Cirebon upacara Panjang Jimat di fokuskan di dua tempat yaitu Keraton Kasepuhandan Astana Gunung Jati. Di Jogjakarta dan Surakarta di masing-masing keraton denganacaranya Grebeg Mulud. Pada zaman kesultanan Mataram perayaan Maulid Nabidisebut Gerebeg Mulud. Kata "Gerebeg" artinya mengikuti, yaitu mengikuti sultan danpara pembesar keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan MaulidNabi, lengkap dengan sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya. Di Garut,terdapat upacara Ngalungsur yaitu proses upacara ritual dimana barang-barang pusakapeninggalan Sunan Rohmat (Sunan Godog/Kian Santang) setiap setahun sekalidibersihkan atau dicuci dengan air bunga-bunga dan digosok dengan minyak wangisupaya tidak berkarat, di fokuskan di desa Lebak Agung, Karangpawitan. Di Bantenkegiatan di fokuskan di Masjid Agung Banten. ditempat lain diantaranya tempat-tempatziarah makam para wali.Di beberapa tempat kadang-kadang perayaan ini dijadikan ajang berkumpulnya paratokoh masyarakat dan sesepuh setempat, seperti kyai, bangsawan/elang, dan tidakketinggalan para jawara dari berbagai paguron untuk saling bersilaturahim, untukmembicarakan berbagai macam hal yang menyangkut daerah setempat. Tapi hal inijarang diekspos karena sifatnya yang non formal, sehingga tidak banyak masyarakatyang mengikuti.Pandangan Ulama NUPara ulama NU memandang peringatan Maulid Nabi ini sebagai bid’ah atau perbuatanyang di zaman Nabi tidak ada, namun termasuk bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) yangdiperbolehkan dalam Islam. Banyak memang amalan seorang muslim yang pada zamanNabi tidak ada namun sekarang dilakukan umat Islam, antara lain: berzanjen, diba’an,yasinan, tahlilan (bacaan Tahlilnya, misalnya, tidak bid’ah sebab Rasulullah sendirisering membacanya), mau’izhah hasanah pada acara temanten dan Muludan.Dalam Madarirushu’ud Syarhul Barzanji dikisahkan, Rasulullah SAW bersabda: "Siapamenghormati hari lahirku, tentu aku berikan syafaat kepadanya di Hari Kiamat."Sahabat Umar bin Khattab secara bersemangat mengatakan: “Siapa yang menghormatihari lahir Rasulullah sama artinya dengan menghidupkan Islam!”
  • 4. Datangnya bulan Rabi’ul Awwal selalu identik dengan peringatan Maulid NabiMuhammad SAW. Peringatan Maulid sendiri pertama kali digelar pada tahun 1187 Matas prakarsa Sultan Shalahuddin al Ayyubi, Mesir (1138 - 1193), dengan maksuduntuk membangkitkan semangat jihad kaum Muslim merebut kembali Yerussalem darikekuasaan pasukan Salib.Pada tahun 1185 M, ketika menunaikan ibadah haji, Shalahuddin menyerukan perlunyamembangkitkan semangat jihad tersebut. Untuk itu, beliau membuka sayembara menulisriwayat Rasululllah SAW dalam untaian puisi, yang kemudian dimenangkan oleh SyaikhJa’far bin Abdul Karim al Barzanji. Dan syair sang iman itu berperan penting dalamusaha pembebasan kota Yerussalem.Hingga kini, tradisi peringatan itu pun tetap berjalan termasuk di Indonesia. Di berbagaitempat, umat Islam sibuk mempersiapkan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dariyang akan menggelar acara besar-besaran dan berdurasi panjang seperti perayaantradisional Sekaten di Solo dan Yogya, sampai pengajian kecil-kecilan di rumah.Dari yang diikuti ribuan jemaah seperti Maulidan di kediaman para habib terkemuka,sampai yang cuma diikuti belasan orang di langgar kecil di kampung-kampung. Meskibentuk acaranya beragam, ada satu mata acara yang sama di berbagai tempat: pembacaanMaulid Nabi. Setiap daerah mempunyai bacaan Maulid favorit masing-masing.Di komunitas habaib, misalnya, yang biasa dibaca ialah Simthud Durat; karya Al-HabibAli bin Muhammad Al-Habsyi. Sementara kalangan pesantren tradisional di Jawa Timurlebih akrab dengan Maulid Ad-Diba’i karya Syaikh Ali bin Abdurrahman Ad-Diba’i Az-Zubaidi. Maulid yang sama juga dibaca oleh sebagian habib di Sampang, Madura.Lain lagi tradisi di sebagian pesisir utara Jawa. Di sana, kalangan pesantren dan majelista’lim kaum ibu menggemari pembacaan Maulid Barzanji, yang digubah oleh SyaikhJa’far bin Abdul Karim Al-Barzanji. Ada juga komunitas habaib yang membaca MaulidBurdah, karya Imam Al-Bushiri, seperti di Kauman, Semarang. Selain membacaAl-Barzanji, sebagian warga Betawi juga ada yang membaca Maulid Azabi, karya SyaikhAhmad Al-Azabi. Belakangan, di beberapa tempat juga dibaca Maulid Adh-Dhiyaulkarya Al-Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz.Rata-rata, pembacanya alumnus Ma’had Darul Musthafa, Tarim, Hadhramaut, Yaman,yang memang diasuh oleh sang penggubah Maulid kontemporer tersebut.Pembacaan Maulid Nabi SAW memang salah satu khazanah kebudayaan Islam yangluar biasa. Keindahan gaya bahasa karya para ulama ahli sastra yang terdiri dari natsar(prosa) dan nazham (langgam qashidah) itu, bak rangkaian ratna mutu manikam.Ungkapan-ungkapannya yang cantik menawan, tak jarang menghanyutkan perasaanpembaca dan pendengarnya dalam samudera kecintaan kepada Rasulullah SAW.
  • 5. Tak mengherankan, dalam pembacaan Maulid tersebut kerap kali dijumpai hadirin yangtersedu-sedu menangis karena terharu. Dan tak jarang, linangan air mata itu jugadibarengi histeria kerinduan kepada sang Nabi Akhir Zaman tersebut. Pengaruhpsikologis yang dahsyat inilah yang dulu diharapkan oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi,Mesir (1138-1 1 93 M), saat pertama kali mencetuskan penyelenggaraan pembacaanMaulid Nabi pada tahun 1187 M sehingga dapat menggugah kembali kesadaran semangatumat Islam. Upaya memelihara semangat dan ghirah keislaman itu jugalah yang akanditonjolkan para ulama Nusantara saat memperkenalkan dan melestarikan perayaanMaulid Nabi.Dalam kitab Al-Hawi Fatawi, Imam Suyuthi menulis, “Sesungguhnya kelahiranRasululluh SAW merupakan nikmat teragung yang dianugerahkan oleh Allah SWTkepada kita, dan wafatnya beliau adalah musibah terbesar bagi kita. Syariat telahmemerintahkan kita untuk menampakkan rasa syukur atas nikmat yang kita peroleh, danbersabar serta tenang dalam menghadapi musibah. Syariat juga memerintahkan kita untukmelakukan aqiqah bagi bayi yang lahir, sebagai perwujudan rasa syukur. Namun, ketikakematian tiba, syariat tidak memerintahkan untuk menyembelih kambing atau hewanlain. Bahkan syariat melarang untuk meratapi mayat dan menampakkan keluh kesah.”Dalam suatu riwayat, Sayyidina Abbas pernah menyampaikan bait-bait syair pujian dihadapan Nabi SAW dan sejumlah sahabat. Diriwayatkan bahwa usai Perang Tabuk,Sayidina ‘Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi, menemui Rasulullah SAW, yang jugakemenakannya, ia berkata, “Aku ingin mengucapkan syair pujian bagimu.”Namun Nabi, yang memang enggan dipuji, berkata, “Semoga Allah menjaga gigimu darikerontokan.”Lalu Sayidina ‘Abbas melantunkan syair yang menceritakan perjalanan hidup Nabi sejaksebelum lahir hingga saat kelahirannya:Sebelum terlahir ke duniaengkau hidup senang di surgaKetika aurat tertutup dedaunanengkau tersimpan di tempat amanKemudian engkau turun ke bumiBukan sebagai manusiasegumpal darah maupun dagingtapi nutfah di perahu NuhKetika banjir menenggelamkan semuanyaanak-cucu Adam beserta keluarganyaengkau pindah dari sulbi ke rahimdari satu generasi ke generasiHingga kemuliaan dan kehormatanmu
  • 6. berlabuh di nasab terbaikyang mengalahkan semua bangsawanKetika engkau lahir, bumi bersinarcakrawala bermandikan cahayamuKami pun berjalan di tengah cahayasinar dan jalan yang penuh petunjukPujian yang melambung bagi Rasulullah SAW, yang memang sudah selayaknya,mengingat akhlaq beliau yang mulia, sosok kepribadian beliau yang luar biasa sebagaicontoh teladan yang baik (uswatun hasanah). Memang, Rasulullah SAW pernahmelarang umatnya menyanjung dan memuja beliau secara berlebihan. Tapi, larangan itudalam konteks yang berbeda.Dalam sebuah hadits shahih beliau bersabda, “Janganlah kalian memujiku secaraberlebihan seperti kaum Nasrani memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku adalahhamba -ya, maka ucapkanlah, ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya’.” (HR Bukhari danAhmad).Mengenai hadits tersebut, para ulama menjelaskan dalam beberapa kitab bahwasesungguhnya Rasulullah SAW tidak pernah melarang umatnya memuji beliau. Yangbeliau larang ialah pujian yang berlebihan, sebagaimana yang dilakukan oleh umatNasrani kepada Nabi Isa AS, yaitu menempatkan beliau sebagai “anak Tuhan”. Inilahjenis pujianyang dilarang oleh Rasulullah SAW, dan inilah yang dimaksud dengan pujian yangberlebih-lebihan tersebut.Dan terbukti, sejak hadits tersebut diucapkan hingga kini, tak seorang pun mereka yangmemuji Rasulullah SAW melebihi batasannya sebagai manusia. Dan tak seorang punyang menuhankan beliau. Bahkan, semua pujian yang indah dan berbahasa sastra belumseberapa dibanding pujian Allah dalam Al-Quran.
  • Wallahu a’lam


Sejarah Dinasti Ayyubiyah



Sejarah Berdirinya Dinasti Al Ayyubiyah
  • 1. Dinasti Al-Ayyubiyah Mesir 560 H – 650 H 1174 M – 1252 M
  • 2. Pendiri sekaligus khalifah pertama pada dinasti Al-Ayyubiyah yaitu Sultan Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi atau Salah Ad-Din Al-Ayubi. Di eropa terkenal dengan sebutan Saladdin.
  • 3. Dinasti fatimiyah runtuh ditandai dengankematian khalifah Al-Adid tahun 567 H/1171 M
  • 4. Pada saat kelahirannya di benteng Tikrit 532 H/1138 M, Ayahnya, Najmuddin sebagai penguasa seljuk mengabdi kepada Imanuddin Zangi, Gubernur Seljuk untuk kotamousul, Irak, dan Najmuddin diangkat menjadigubernur Belbek, Lebanon dan pembantu dekat Raja Suriah, Nuruddin Mahmud
  • 5. Salahuddin mempelajari dan menguasi teknik perang, politik, dan strategi di masa mudanyaIa juga mempelajari teologi Sunni selama 10 tahun.
  • 6. Salahuddin Al-Ayyubi diangkat menjadi wazir (konsoler) pada 1169 M
  • 7. Selama beberapa tahun, banyak prestasi yang di buat oleh Salahuddin :• Ia dan ayahnya menumpas para pemberontakan terhadap pemimpinnya dan melawan dalam medan perang salib• Ia bersama pamannya, Asaduddin mengusir tentara salib dari Mesir 559-564 H/1164 -1168 M. sehingga Asaduddin diangkat menjadi Perdana Menteri Khalifah Fatimiyah• Mematahkan serangan tentara salib dan pasukan romawi bizantium.
  • 8. PERANG SALIB
  • 9. Semenjak itu kedudukan Salahuddin diMesir semakin mantap. Apalagi ia mendapatdukungan dari masyarakat yang mayoritas sunni. Peristiwa ini menyebabkan menguatnyapengaruh Nuruddin Zangki dan panglimanyaSalahuddin al-Ayubi. Puncaknya terjadi padamasa al-Adid, pada masa pemerintahannyaSalahuddin telah menduduki jabatan wazir. Dengan kekuasaannya Salahuddinmenghormati dan memberikan kesempatankepada orang-orang Fathimy.
  • 10. Ketika al-Adhid jatuh sakit pada tahun 555 H / 1160 M, Salahudin al-Ayubi mengadakan pertemuan dengan para pembesar untuk menyelengarakan khutbah dengan menyebutnama khalifah Abasiyyah, al-Mustadi.Salahuddin Al-Ayyubi mengambil kekuasaan dari tangan Fatimiyah dan mengembalikan kepada Al- Mustadi (khalifah Abbasiyah) di Bagdad , 567 H/1171 M atas perintah Nuruddin.
  • 11. Pertemuan Ini dan meninggalnya Khalifah Al- Adhid adalah simbol dari runtuh danberakhirnya kekuasaan Dinasti Fatimiyah untukkemudian digantikan oleh Dinasti Al-Ayubiyyah.
  • 12. Biodata Salahuddin Al Ayyubi• Nama lengkap : • Nama Ayah : Najmuddin Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi Ayyub atau Salah Ad-Din Al-Ayyubi • Nama paman : Asaduddin• Nama lain : Saladin Syirkuh• Lahir : benteng Tikrit, Irak • Sifat-sifat 532 H/1138 M :berani, wara’, zuhud, khus• Bangsa : kurdi yu’, pemurah, pemaaf, teg• Karya : memberikan as, dll. catatan kaki dan • Salahuddin adalah penjelasan dalam kitab seorang ulama hadis Abu Dawud • Ia pendiri dinasti Al- Ayyubiyah

Sabtu, 09 Februari 2013

Bertaubatnya Ibnu Taimiyah di Depan para Ulama



Minggu, 10 Januari 2013
Kisah taubatnya Ibnu Taimiyah di tangan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Fakta Sejarah)

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله ذي الحمد المجيد، والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله محمد خير العَبيد، ثم على المُبَشِّرين به وآله وصَحْبِه وخُلفائه وورثته إلى يوم المَزيد.

Sedikit saya akan mengungkap fakta sejarah yang jarang dikupas secara singkat tentang kisah taubatnya seorang figur yang menjadi cikal bakal ajaran wahhabiyah yaitu Ibnu Taimiyyah Al-Harrani. Fakta sejarah ini telah ditulis oleh banyak ulama Ahlus sunnah wal jama'ah yang hidup sezaman dengan Ibnu Taimiyyah bahkan di antara mereka adalah mantan murid dari Ibnu Taimiyyah, seperti Adz-Dzahabi dan Ibnu Syakir.

Para ulama yang menulis sejarah Ibnu Taimiyyah adalah orang-orang yang hidup semasa dengan Ibnu Taimiyyah, mereka menyaksikan, bertemu langsung dan bahkan ada yang berguru kepadanya sebelum Ibnu Taimiyyah menyimpang dari ajaran salaf kemudian membebaskan diri setelah mengetahui Ibnu Taimiyyah menyimpang dari ajaran mayoritas umat muslim. Maka mereka para ulama tersebut lebih mengetahui sejarah dan ajaran Ibnu Taimiyyah ketimbang kita dan para wahhabi sekarang ini.

Sebelumnya ada baiknya kita mengetahui sedikit komentar para ulama Ahlus sunnah wal jama'ah tentang ajaran Ibnu Taimiyyah :

قال المحدث الحافظ الفقيه ولي الدين العراقي ابن الشيخ الحفاظ زين الدين العراقي : انه خرق الاجماع في مسائل كثيرة قيل تبلغ ستين مسألة بعضها في الاصول و بعضها في الفروع خالف فيها بعد انعقاد الاجماع عليها. ( الاجوبة المرضية على المسألة المكية)

Seorang Ahli Hadits yang mendapat gelar Al-Hafidz Al-Faqih, Waliyuddin Al-Iraqi bin Syaikh Al-Haffadz Zainuddin Al-Iraqi berkata " Sesungguhnya Ibnu Taimiyyah telah merusak mayoritas umat muslim di dalam banyak permasalahan, dikatakan mencapai 60 permasalahan sebagian mengenai akidah dan sebagian lainnya mengenai furu'. Ia telah menyalahi permasalahan-permasalahan yang telah disepakati oleh umat Islam ".
(Al-Ajwibatul Mardhiyyah 'alal mas-alatil makkiyyah)

قال الشيخ ابن حجر الهيتمي ناقلا المسائل التي خالف فيها ابن تيميه اجماع المسلمين ما نصه : وان العالم قديم بالنوع ولم يزل مع الله مخلوقا دائما فجعله موجبا بالذات لا فاعلا بالاختيارتعالى الله عن ذالك, وقوله بالجسمبة والجهة والانتقال و انه بقدر العرش لااصغر ولا اكبر , تعالى الله عن هذا الافتراء الشنيع القبيخ والكفر البراح الصريح. (الفتاوى الحديثية ص: ١١٦)


Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitamy berkata dengan menukil permasalahan-permasalahan Ibnu Taimiyyah yang menyalahi kesepakaran umat Islam, yaitu : (Ibnu Taimiyyah telah berpendapat) bahwa Alam itu bersifat dahulu dengan satu macam, dan selalu makhluk bersama Allah. Ia telah menyandarkan alam dengan Dzat Allah Swt bukan dengan perbuatan Allah scra ikhtiar, sungguh Maha Luhur Allah dari penyifatan yang demikian itu. Ibnu Taimiyyah juga berkeyakinan adanya jisim pada Allah Swt, arah dan perpindahan. Ia juga berkeyakinan bahwa Allah tidak lebih kecil dan tidak lebih besar dari Arsy. Sungguh Allah maha Suci atas kedustaan keji dan buruk ini serta kekufuran yang nyata ".
(Al-Fatawa Al-Haditsiyyah : 116)

وقال ايضا ما نصه : واياك ان تصغي الى ما في كتب ابن تيمية وتلميذه ابن القيم الجوزية وغيرهما ممن اتخذ الهه هواه واضله الله على علم و ختم على سمعه وقلبه وجعل على بصره غشاوة فمن يهديه من بعدالله. و كيف تجاوز هؤلاء الملحدون الحدود و تعدواالرسوم وخرقوا سياج الشربعة والحقيقة فظنوا بذالك انهم على هدى من ربهم وليسوا كذالك. (الفتاوى الحديثية ص:
۲۰۳)

Beliau Syaikh Ibnu Hajar juga berkata " Maka berhati-hatilah kamu, jangan kamu dengarkan apa yang ditulis oleh Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah dan selain keduanya dari orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah telah menyesatkannya dari ilmu serta menutup telinga dan hatinya dan menjdaikan penghalang atas pandangannya. Maka siapakah yang mampu member petunjuk atas orang yang telah Allah jauhkan ?. Bagaimana orang-orang sesat itu telah melampai batasan-batasan syare'at dan aturan, dan mereka pun juga telah merobek pakaian syare'at dan hakikat, mereka masih menyangka bahwa mereka di atas petunjuk dari Tuhan mereka, padahal sungguh tidaklah demikian ".
(Al-Fatawa Al-Haditsiyyah : 203)

Seorang ulama besar Syaikh Abu Al-Hasan Ali Ad-Dimasyqi Rh berkata dari ayahnya bahwasanya beliau bercerita " Ketika kami sedang duduk di majlis Ibnu Taimiyyah, dan ia berceramah hingga sampai pada pembahasan ayat Istiwa, ia berkata " Allah Swt beristiwa di atas arasy-Nya seperti istiwaku ini ", maka manusia kaget dan segera melompat ke arah Ibnu Taimiyyah dengan satu lompatan dan menurunkanya dari kursi kemudian orang-orang segera menampar dan memukulnya dengan sandal-sandal mereka dan selainnya. Mereka membawa Ibnu Taimiyyah ke salah satu hakim, maka berkumpullah di majlis tersebut para ulama dan mereka mulai mengintrogasinya " Apa dalil dari yang telah engkau katakan tadi ? ", Ibnu Taimiyyah menjawab " Firman Allah Swt ; Ar-Rahmaanu 'alal arsyis tawaa ", maka para ulama tertawa dan tahulah mereka bahwa ibnu taimiyyah adalah orang bodoh. Yang tidak mengetahui kaidah-kaidah ilmu.
Kemudian para ulama bertanya lagi untuk memastikan urusannya " Apa pendapatmu tentang firman Allah :
فاينما تولوا فثم وجه الله " Dimanapun kamu menghadap maka di sanalah wajah Allah " ? Maka Ibnu Taimiyyah menjawab dengan jawaban yang meyakinkan bahwa ia termasuk orang bodoh yang sebenarnya, ia tidak mengetahui apa yang ia katakana dan ia telah tertipu oleh pujian orang-orang awam padanya dan beberapa para ulama jumud yang kosong dari ilmu yang berdasarkan dalil-dalil.
(Al-Maqoolat As-Sunniyah : 36)

Sangat banyak hujatan para ualam Aswaja (Ahlus sunnah wal jama'ah) kepada Ibnu Taimiyyah mengenai ajaran-ajarannya yang menyimpang dari mayoritas ulama dan umat Islam, bahkan para ulama sempat mengarang kitab-kitab untuk membantaha ajaran-ajarannya dan demi menyelamatkan umat Islam dari kesesatannya. Di antaranya :

1. Al-Qâdlî al-Mufassir Badruddin Muhammad ibn Ibrahim ibn Jama'ah asy-Syafi'i (w 733 H).
2. Al-Qâdlî Ibn Muhammad al-Hariri al-Anshari al-Hanafi.
3. Al-Qâdlî Muhammad ibn Abi Bakr al-Maliki.
4. Al-Qâdlî Ahmad ibn Umar al-Maqdisi al-Hanbali.
Ke empat ulama yang juga menjabat qodhi inilah yang merekomendasikan fatwa untuk memenjarakan Ibnu Taimiyyah. Dan sempat berpindah-pindah penjara.
4. Syekh Shaleh ibn Abdillah al-Batha-ihi, Syekh al-Munaibi' ar-Rifa'i. salah seorang ulama terkemuka yang telah menetap di Damaskus (w 707 H).
5. Syekh Kamaluddin Muhammad ibn Abi al-Hasan Ali as-Sarraj ar-Rifa'i al-Qurasyi asy-Syafi'i. salah seorang ulama terkemuka yang hidup semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri. Tuffâh al-Arwâh Wa Fattâh al-Arbâh
6. Ahli Fiqih dan ahli teologi serta ahli tasawwuf terkemuka di masanya; Syekh Tajuddin Ahmad ibn ibn Athaillah al-Iskandari asy-Syadzili (w 709 H).
7. Pimpinan para hakim (Qâdlî al-Qudlât) di seluruh wilayah negara Mesir; Syekh Ahmad ibn Ibrahim as-Suruji al-Hanafi (w 710 H) • I'tirâdlât 'Alâ Ibn Taimiyah Fi 'Ilm al-Kalâm.
8. Pimpinan para hakim madzhab Maliki di seluruh wilayah negara Mesir pada masanya; Syekh Ali ibn Makhluf (w 718 H). Di antara pernyataannya sebagai berikut: "Ibn Taimiyah adalah orang yang berkeyakinan tajsîm, dan dalam keyakinan kita barangsiapa berkeyakinan semacam ini maka ia telah menjadi kafir yang wajib dibunuh".
9. Syekh al-Faqîh Ali ibn Ya'qub al-Bakri (w 724 H). Ketika suatu waktu Ibn Taimiyah masuk wilayah Mesir, Syekh Ali ibn Ya'qub ini adalah salah seorang ulama terkemuka yang menentang dan memerangi berbagai faham sesatnya.
10. Al-Faqîh Syamsuddin Muhammad ibn Adlan asy-Syafi'i (w 749 H). Salah seorang ulama terkemuka yang hidup semasa dengan Ibn Taimiyah yang telah mengutip langsung bahwa di antara kesesatan Ibn Taimiyah mengatakan bahwa Allah berada di atas arsy, dan secara hakekat Dia berada dan bertempat di atasnya, juga mengatakan bahwa sifat Kalam Allah berupa huruf dan suara.

11. Imam al-Hâfizh al-Mujtahid Taqiyuddin Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki (w 756 H). • al-I'tibâr Bi Baqâ' al-Jannah Wa an-Nâr. • ad-Durrah al-Mudliyyah Fî ar-Radd 'Alâ Ibn Taimiyah. • Syifâ' as-Saqâm Fî Ziyârah Khair al-Anâm. • an-Nazhar al-Muhaqqaq Fi al-Halaf Bi ath-Thalâq al-Mu'allaq. • Naqd al-Ijtimâ' Wa al-Iftirâq Fî Masâ-il al-Aymân Wa ath-Thalâq. • at-Tahqîq Fî Mas-alah at-Ta'lîq. • Raf'u asy-Syiqâq Fî Mas'alah ath-Thalâq.
12. Al-Muhaddits al-Mufassir al-Ushûly al-Faqîh Muhammad ibn Umar ibn Makki yang dikenal dengan sebutan Ibn al-Murahhil asy-Syafi'i (w 716 H). Di masa hidupnya ulama besar ini telah berdebat dan memerangi Ibn Taimiyah.
13. Imam al-Hâfizh Abu Sa'id Shalahuddin al-'Ala-i (w 761 H). Imam terkemuka ini mencela dan telah memerangi Ibn Taimiyah. Lihat kitab Dakhâ-ir al-Qashr Fî Tarâjum Nubalâ' al-'Ashr karya Ibn Thulun pada halaman 32-33. • Ahâdîts Ziyârah Qabr an-Naby.
14. Pimpinan para hakim (Qâdlî al-Qudlât) kota Madinah Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Musallam ibn Malik ash-Shalihi al-Hanbali (w 726 H).
15. Imam Syekh Ahmad ibn Yahya al-Kullabi al-Halabi yang dikenal dengan sebutan Ibn Jahbal (w 733 H), semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri. • Risâlah Fî Nafyi al-Jihah.
16. Al-Qâdlî Kamaluddin ibn az-Zamlakani (w 727 H). Ulama besar yang semasa dengan Ibn Taimiyah ini telah memerangi seluruh kesesatan Ibn Taimiyah, hingga beliau menuliskan dua risalah untuk itu. Pertama dalam masalah talaq, dan kedua dalam masalah ziarah ke makam Rasulullah.
17. Al-Qâdlî Shafiyuddin al-Hindi (w 715 H), semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri.
18. Al-Faqîh al-Muhaddits Ali ibn Muhammad al-Baji asy-Syafi'i (w 714 H). Telah memerangi Ibn Taimiyah dalam empat belas keyakinan sesatnya, dan telah mengalahkan serta menundukannya.
19. Sejarawan terkemuka (al-Mu-arrikh) al-Faqîh al-Mutakallim al-Fakhr ibn Mu'allim al-Qurasyi (w 725 H). • Najm al-Muhtadî Wa Rajm al-Mu'tadî
20. Al-Faqîh Muhammad ibn Ali ibn Ali al-Mazini ad-Dahhan ad-Damasyqi (w 721 H). • Risâlah Fî ar-Radd 'Alâ Ibn Taimiyah Fî Mas-alah ath-Thalâq. • Risâlah Fî ar-Radd 'Alâ Ibn Taimiyah Fî Mas-alah az-Ziayârah
21. Al-Faqîh Abu al-Qasim Ahmad ibn Muhammad ibn Muhammad asy-Syirazi (w 733 H). • Risâlah Fi ar-Radd 'Alâ Ibn Taimiyah
22. Al-Faqîh al-Muhaddits Jalaluddin al-Qazwini asy-Syafi'i (w 739 H).
23. As-Sulthan Ibn Qalawun (w 741 H). Beliau adalah Sultan kaum Muslimin saat itu, telah menuliskan surat resmi prihal kesesatan Ibn Taimiyah.
24. Al-Hâfizh adz-Dzahabi (w 748 H) yang merupakan murid Ibn Taimiyah sendiri. • Bayân Zaghl al-'Ilm Wa ath-Thalab. • an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah.
Al-Mufassir Abu Hayyan al-Andalusi (745 H). • Tafsîr an-Nahr al-Mâdd Min al-Bahr al-Muhîth
25. Syekh Afifuddin Abdullah ibn As'ad al-Yafi'i al-Yamani al-Makki (w 768 H).
26. Al-Faqîh Syekh Ibn Bathuthah, salah seorang ulama terkemuka yang telah banyak melakukan rihlah (perjalanan).
27. Al-Faqîh Tajuddin Abdul Wahhab ibn Taqiyuddin Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki (w 771 H). • Thabaqât asy-Syâfi'iyyah al-Kubrâ
28. Seorang ulama ahli sejarah terkemuka (al-Mu-arrikh) Syekh Ibn Syakir al-Kutubi (w 764 H). • 'Uyûn at-Tawârikh.
29. Syekh Umar ibn Abi al-Yaman al-Lakhmi al-Fakihi al-Maliki (w 734 H). • at-Tuhfah al-Mukhtârah Fî ar-Radd 'Alâ Munkir az-Ziyârah
30. Al-Qâdlî Muhammad as-Sa'di al-Mishri al-Akhna'i (w 750 H). • al-Maqâlât al-Mardliyyah Fî ar-Radd 'Alâ Man Yunkir az-Ziyârah al-Muhammadiyyah, dicetak satu kitab dengan al-Barâhîn as-Sâthi'ah karya Syekh Salamah al-Azami.
31. Syekh Isa az-Zawawi al-Maliki (w 743 H). • Risâlah Fî Mas-alah ath-Thalâq.
32. Syekh Ahamad ibn Utsman at-Turkimani al-Jauzajani al-Hanafi (w 744 H). • al-Abhâts al-Jaliyyah Fî ar-Radd 'Alâ Ibn Taimiyah.
33. Imam al-Hâfizh Abdul Rahman ibn Ahmad yang dikenal dengan Ibn Rajab al-Hanbali (w 795 H). •
34. Bayân Musykil al-Ahâdîts al-Wâridah Fî Anna ath-Thalâq ats-Tsalâts Wâhidah.
35. Imam al-Hâfizh Ibn Hajar al-Asqalani (w 852 H). • ad-Durar al-Kâminah Fî A'yân al-Mi-ah ats-Tsâminah. • Lisân al-Mizân. • Fath al-Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri. • al-Isyârah Bi Thuruq Hadîts az-Ziyârah.
36. Imam al-Hâfizh Waliyuddin al-Iraqi (w 826 H). • al-Ajwibah al-Mardliyyah Fî ar-Radd 'Alâ al-As-ilah al-Makkiyyah.
37. Al-Faqîh al-Mu-arrikh Imam Ibn Qadli Syubhah asy-Syafi'i (w 851 H). • Târîkh Ibn Qâdlî Syubhah.
38. Al-Faqîh al-Mutakallim Abu Bakar al-Hushni penulis kitab Kifâyah al-Akhyâr (829 H). • Daf'u Syubah Man Syabbah Wa Tamarrad Wa Nasaba Dzâlika Ilâ Imam Ahmad.
39. Salah seorang ulama terkemuka di daratan Afrika pada masanya; Syekh Abu Abdillah ibn Arafah at-Tunisi al-Maliki (w 803 H).
40. Al-'Allâmah Ala'uddin al-Bukhari al-Hanafi (w 841 H). Beliau mengatakn bahwa Ibn Taimiyah adalah seorang yang kafir. Beliau juga mengkafirkan orang yang menyebut Ibn Taimiyah dengan Syekh al-Islâm jika orang tersebut telah mengetahui kekufuran-kekufuran Ibn Taimiyah. Pernyataan al-'Allâmah Ala'uddin al-Bukhari ini dikutip oleh Imam al-Hâfizh as-Sakhawi dalam kitab adl-Dlau' al-Lâmi'.

Dan masih banyak lagi ulama yang lainnya.



Sekarang marilah kita simak penuturan seorang ulama yang sezaman dengan Ibnu Taimiyyah yaitu Ibnu Syakir Al-Kutuby dalam salah satu kitab tarikhnya juz 20 yang telah diabadikan oleh seorang ulama besar dari kalangan Ahklus sunnah yang terkenal di seluruh penjuru dunia yaitu Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Astqolani dalam kitabnya " Ad-Duroru Al-Kaaminah " dan beliau juga penyarah kitab Shohih Bukhori yang dinamakan Fathu Al-Bari. Berikut penuturan beliau yang begitu panjang namun saya singkat dengan tanpa menghilangkan maksud tujuannya :
Sidang Pertama :


" Di tahun 705 di hari ke delapan bulan Rajab, Ibnu Taimiyyah disidang dalam satu majlis persidangan yang dihadiri oleh para penguasa dan para ulama ahli fiqih di hadapan wakil sulthon. Maka Ibnu Taimiyyah ditanya tentang aqidahnya, lalu ia mengutarakan sedikit dari aqidahnya. Kemudian dihadirkan kitab aqidahnya Al-Wasithiyyah dan dibacakan dalam persidangan, maka terjadilah pembahasan yang banyak dan masih ada sisa pembahasan yang ditunda untuk sidang berikutnya.

Dan di tahun 707 hari ke-6 bulan Rabi'ul Awwal hari kamis, Ibnu Taimiyyah menyatakan taubatnya dari akidah dan ajaran sesatnya di hadapan para ulama Ahlus sunnah wal jama'ah dari kalangan empat madzhab, bahkan ia membuat perjanjian kepada para ulama dan hakim dengan tertulis dan tanda tangan untuk tidak kembali ke ajaran sesatnya, namun setelah itu ia pun masih sering membuat fatwa-fatwa nyeleneh dan mengkhianati surat perjanjiannya hingga akhirnya ia mondar-mandir masuk penjara dan wafat di penjara sebagaimana nanti akan diutarakan ucapan dari para ulama.


Berikut ini pernyataan Ibnu taimiyyah tentang pertaubatannya :

الحمد الله، الذي أعتقده أن في القرءان معنى قائم بذات الله وهو صفة من صفات ذاته القديمة الأزلية وهو غير مخلوق، وليس بحرف ولا صوت، وليس هو حالا في مخلوق أصلا ولا ورق ولا حبر ولا غير ذلك، والذي أعتقده في قوله: ? الرحمن على آلعرش آستوى ? [سورة طه] أنه على ما قال الجماعة الحاضرون وليس على حقيقته وظاهره، ولا أعلم كنه المراد به، بل لا يعلم ذلك إلا الله، والقول في النزول كالقول في الاستواء أقول فيه ما أقول فيه لا أعرف كنه المراد به بل لا يعلم ذلك إلا الله، وليس على حقيقته وظاهره كما قال الجماعة الحاضرون، وكل ما يخالف هذا الاعتقاد فهو باطل، وكل ما في خطي أو لفظي مما يخالف ذلك فهو باطل، وكل ما في ذلك مما فيه إضلال الخلق أو نسبة ما لا يليق بالله إليه فأنا بريء منه فقد تبرأت منه وتائب إلى الله من كل ما يخالفه وكل ما كتبته وقلته في هذه الورقة فأنا مختار فى ذلك غير مكره.

(كتبه أحمد بن تيمية) وذلك يوم الخميس سادس شهر ربيع الآخر سنة سبع وسبعمائة.

" Segala puji bagi Allah yang aku yakini bahwa di dalam Al-Quran memiliki makna yang berdiri dengan Dzat Allah Swt yaitu sifat dari sifat-sifat Dzat Allah Swt yang maha dahulu lagi maha azali dan al-Quran bukanlah makhluq, bukan berupa huruf dan suara, bukan suatu keadaan bagi makhluk sama sekali dan juga bukan berupa kertas dan tinta dan bukan yang lainnya. Dan aku meyakini bahwa firman Allah Swt " الرحمن على آلعرش آستوى adalah apa yang telah dikatakan oleh para jama'ah (ulama) yang hadir ini dan bukanlah istawa itu secara hakekat dan dhohirnya, dan aku pun tidak mengetahui arti dan maksud yang sesungguhnya kecuali Allah Swt, bukan istawa secara hakekat dan dhohir seperti yang dinyatakan oleh jama'ah yang hadir ini. Semua yang bertentangan dengan akidah I ni adalah batil. Dan semua apa yang ada dalam tulisanku dan ucapanku yang bertentangan dari semua itu adalah batil. Semua apa yang telah aku gtulis dan ucapkan sebelumnya adalah suatu penyesatan kepada umat atau penisbatan sesuatu yang tidak layak bagi Allah Swt, maka aku berlepas diri dan menjauhkan diri dari semua itu. Aku bertaubat kepada Allah dari ajaran yang menyalahi-Nya. Dan semua yang aku dan aku ucapkan di kertas ini maka aku dengan suka rela tanpa adanya paksaan "
Telah menulisnya :

(Ahmad Ibnu Taimiyyah)



Kamis, 6-Rabiul Awwal-707 H.


Di atas surat pernyaan itu telah ditanda tangani di bagian atasnya oleh Ketua hakim, Badruddin bin jama'ah.

Pernyataan ini telah disaksikan, diakui dan ditanda tangani oleh :


- Muhammad bin Ibrahim Asy-Syafi'i, beliau menyatakan :
اعترف عندي بكل ما كتبه بخطه في التاريخ المذكور
(Aku mengakui segala apa yang telah dinyatakan oleh Ibnu Taimiyyah ditanggal tersebut)
- Abdul Ghoni bin Muhammad Al-Hanbali :
اعترف بكل ما كتب بخطه
(Aku mengakui apa yang telah dinyatakannya)
- Ahmad bin Rif'ah
- Abdul Aziz An-Namrowi :
أقر بذلك (Aku mengakuinya)
- Ali bin Miuhammad bin Khoththob Al-Baji Asy-Syafi'I :
أقر بذلك كله بتاريخه (Aku mengakui itu dengan tanggalnya)
- Hasan bin Ahmad bin Muhammad Al-Husaini :
جرى ذلك بحضوري في تاريخه (Ini terjadi di hadapanku dengan tanggalnya)
- Abdullah bin jama'ah (Aku mengakuinya)
- Muhammad bin Utsman Al-Barbajubi :
أقز بذلك وكتبه بحضوري (Aku mengakuinya dan menulisnya dihadapanku)

Mereka semua adalah para ulama besar di masa itu salah satunya adalah syaikh Ibnu Rif'ah yang telah mengarang kitab Al-Matlabu Al-'Aali " syarah dari kitab Al-Wasith imam Ghozali sebanyak 40 jilid.
Namun faktanya Ibnu Taimiyah tidak lama melanggar perjanjian tersebut dan kembali lagi dengan ajaran-ajaran menyimpangnya. Sampai-sampai dikatakan oleh seorang ulama :
لكن لم تمض مدة على ذلك حتى نقض ابن تيمية عهوده ومواثيقه كما هو عادة أئمة الضلال ورجع إلى عادته القديمة في الإضلال.
" Akan tetapi tidak lama setelah itu Ibnu Taimiyyah melanggar perjanjian dan pernyataannya itu sebegaimana kebiasaan para imam sesat dan ia kembali pada kebiasaan lamanya di dalam menyesatkan umat "

Sidang kedua :

Diadakan hari jum'ah hari ke-12 dari bulan Rajab. Ikut hadir saat itu seorang ulama besar Shofiyuddin Al-Hindiy. Maka mulailah pembahasan, mereka mewakilkan kepada syaikh Kamaluddin Az-Zamalkani dan akhirnya beliau memenangkan diskusi itu, beliau telah membungkam habis Ibnu Taimiyyah dalam persidangan tersebut. Ibnu Taimiyyah merasa khawatir atas dirinya, maka ia member kesaksian pada orang-orang yang hadir bahwa ia mengaku bermadzhab Syafi'I dan beraqidah dengan aqidah imam Syafi'i. Maka orang-orang ridho dengannya dan mereka pun pulang.

Sidang ketiga :

Sebelumnya Ibnu Taimiyyah mengaku bermadzhab Syafi'I, namun pada kenyataannya ia masih membuat ulah dengan fatwa-fatwa yang aneh-aneh sehingga banyak mempengaruhi orang lain. Maka pada akhir bulan Rajab, para ulama ahli fiqih dan para qodhi berkumpul di satu persidangan yang dihadiri wakil shulthon saat itu. Maka mereka semua saling membahas tentang permasalahan aqidah dan berjalanlah persidangan sbgaiamana persidangan yang pertama.
Setelah beberapa hari datanglah surat dari sulthon untuk berangkat bersama seorang utusan dari Mesir dengan permintaan ketua qodhi Najmuddin. Di antara isi surat tersebut berbunyi " Kalian mengetahui apa yang terjadi di tahun 98 tentang aqidah Ibnu Taimiyyah ". Maka mereka bertanya kepada orang-orang tentang apa yang terjadi pada Ibnu Taimiyyah. Maka orang-orang mendatangkan aqidah Ibnu Taimiyyah kepada qodhi Jalaluddin Al-Quzwaini yang pernah dihadapkan kepada ketua qodhi imamuddin. Maka mereka membincangkan masalah ini kepada Raja supaya mengirim surat untuk masalah ini dan raja pun mnyetujuinya.

Kemudian setelah itu Raja memerintahkan syamsuddin Muhammad Al-Muhamadar Ibnuuntuk mendatangi Ibnu Taimiyyah dan ia pun berkata kepada Ibnu Taimiyyah " Raja telah memerintahkanmu untuk pergi esok hari. Maka Ibnu Taimiyyah berangkat ditemani oleh dua Abdullah dan Abdurrahman serta beberapa jama'ahnya.

Sidang keempat :

Maka pada hari ketujuh bulan Syawwal sampailah Ibnu Taimiyyah ke Mesir dan diadakan satu persidangan berikutnya di benteng Kairo di hadapan para qodhi dan para ulama ahli fiqih dari empat madzhab. Kemudian syaikh Syamsuddin bin Adnan Asy-Syafi'I berbicara dan menyebutkan tentang beberapa fasal dari aqidah Ibnu Taimiyyah. Maka Ibnu Taimiyyah memulai pembicaraan dengan pujian kepada Allah Swt dan berbicara dengan pembicaraan yang mengarah pada nasehat bukan pengklarifikasian. Maka dijawa " Wahai syaikh, apa yang kau bicarakan kami telah mengetahuinya dan kami tidak ada hajat atas nasehatmu, kami telah menampilkan pertanyaan padamu maka jawablah ! ". Ibnu Taimiiyah hendak mengulangi pujian kepada Allah, tapi para ulama menyetopnya dan berkata " Jawablah wahai syaikh ". Maka Ibnu Taimiyyah terdiam ". Dan para ulama mengulangi pertanyaan berulang-ulang kali tapi Ibnu Taimiyyah selalu berbeli-belit dalam berbicara. Maka seorang qodhi yang bermadzhab Maliki memerintahkannya untuk memenjarakan Ibnu Taimiyyah di satu ruangan yang ada di benteng tersebut bersama dua saudaranya yang ikut bersamanya itu.

Begitu lamanya ia menetap di penjara dalam benteng tersebut hingga ia wafat dalam penjara pada malam hari tanggal 22, Dzulqo'dah tahun 728 H.

Sejarah ini telah ditulis oleh para ulama di dalam banyak literaul kitab yang mu'tabar di antaranya kitab Ad-Duraru Al-Kaminah karya Ibnu Hajar, kitab Nihayah Al-Arab Fi Funun Al-Adab karya As-Syeikh Syihabuddin An-Nuwairy wafat 733H cetakan Dar Al-Kutub Al-Misriyyah dan yang lainnya.

Demikian lah sejarah singkat Ibnu Taimiyah seorag figur dari cikal-bakal munculnya ajaran wahhabiyyah dan seorang ulama andalan yang dijadikan rujukan oleh para ulama wahhabi.
Semoga hal ini menjadi renungan bagi para pengikut wahhabi…

Nb : Insya Allah (jika Allah menaqdirkan umur panjang), berikutnya saya akan menulis sejarah lengkapnya Ibnu Taimiyah dan saya tampikan teks surat-surat dari para hakim saat itu dan juga surat dari para ulama besar serta mantan-mantan muridnya yang juga sempat menulis surat nasehat untuk Ibnu Taimiyyah.)

(Ibnu Abdillah Al-Katibiy)